Sabtu, 18 Apr 2026

Keraton Solo Membisu di Puncak Libur Nataru walaupun direvitalisasi Megah, Namun Akses keraton Digembok Rapat

3 menit membaca View : 25
Redaksi
Nasional - 28 Des 2025

SOLO –mediasibetkompppak.com Ironi menyelimuti jantung budaya Kota Surakarta di penghujung tahun 2025. Di saat ribuan wisatawan memadati kota Solo untuk merayakan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), ikon wisata sejarah paling utama, Museum Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, justru berada dalam kondisi digembok rapat. Revitalisasi fisik bangunan yang menelan biaya besar dari pemerintah seolah menjadi pajangan mati yang tak bisa dinikmati publik.

 

Sejak Sabtu (27/12/2025), banyak gelombang kekecewaan dari wisatawan di area sekitar Museum Keraton. Banyak pengunjung yang datang dari luar kota, seperti Malang, Surabaya, hingga Jakarta, terpaksa gigit jari di depan pintu gerbang timur yang tertutup dan di gembok.

 

Ketidaksiapan informasi di ranah digital memperparah keadaan. Pada layanan navigasi Google Maps, status museum tertulis “Buka” hingga pukul 15.00 WIB, yang memicu penumpukan wisatawan di depan gerbang sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa pintu tidak akan dibuka.

 

“Kami sudah jauh-jauh dari Malang karena penasaran ingin melihat wajah baru Keraton setelah revitalisasi. Di internet bilangnya buka, tapi sampai sini malah digembok. Sangat mengecewakan,” ujar Sovan Garzi, salah satu wisatawan yang akhirnya hanya bisa berkeliling menggunakan becak untuk mengobati rasa penasaran.

 

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Edy Wirabhumi, mengakui adanya kejadian ini. Ia menyebut situasi museum yang “masih dalam posisi digembok” sebagai hal yang sangat disayangkan, terutama di libur panjang seperti sekarang.

Meski tidak secara eksplisit merujuk pada konflik lama, tertutupnya akses ini diduga kuat masih berkaitan dengan permasalahan internal keluarga besar Keraton. Upaya komunikasi kini sedang diupayakan untuk menghubungi Sinuhun PB XIV Mangkubumi dan Gusti Moeng guna mencari titik temu agar museum bisa segera dibuka, meski hanya secara terbatas.

 

Guna meredam kekecewaan publik, pihak LDA merencanakan solusi jangka pendek. Jika Museum Keraton di sisi timur tetap tidak bisa diakses karena kendala teknis atau internal, rencananya wisatawan akan dialihkan melalui pintu utama, Kori Kamandungan.

“Kami upayakan aksesibilitas bisa diberikan walaupun terbatas. Misalnya, masuk melalui Kori Kamandungan, melihat pelataran, lalu kembali lagi. Ini lebih baik daripada wisatawan tidak mendapatkan apa-apa sama sekali,” jelas KPH Edy Wirabhumi. Targetnya, skema darurat ini bisa direalisasikan pada hari Minggu (28/12) atau Senin mendatang.

 

Di tengah ambisi Pemerintah Kota Solo yang gencar mempromosikan Pariwisata dan Budaya, “aksi gembok” ini dinilai sebagai langkah mundur. Wisatawan tidak hanya kehilangan kesempatan edukasi sejarah, namun citra Solo sebagai kota budaya yang ramah dan terbuka turut dipertaruhkan.

 

Publik kini menanti, apakah pintu keraton akan tetap digembok di sisa liburan tahun ini, ataukah para pemangku kebijakan di dalam tembok Keraton Solo bakal melunak demi kepentingan pelayanan publik dan pelestarian budaya.

( Billy )

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *